Top Pick
Covid-19 berhasil menunda Pilkada Serentak 2020 Polisi Periksa Saksi Kasus Kekerasan Tenaga Kesehatan di Mabar Diduga Curang Menetapkan KK Penerima BLT, HAM Gelar Aksi Spontan Tuntut Keadilan Untuk Pasien Cuci Darah, Siloam Labuan Bajo Lakukan Rapid Test Berkala Secara Gratis Didata Sebagai Penerima Bantuan, Mahasiwa Mabar Dapat Menelpon Langsung Kepala Dinsos Cegah Covid, Desa Lalong Lakukan Penyemprotan Desinfektan

Bagi Rakyat Kecil, Mimpi Sejahtera Adalah Luka (Catatan Reflektif Soal Aktivitas Tambang)

Oleh : Acik Wesa

Mimpi dalam definisi terburuknya ialah sepucuk harapan, Cita-cita dan prospek hidup menuju puncak kehidupan duniawi seseorang atau kelompok. Mimpi secara alas pikir sederhana merupakan sebuah pedoman perjuangan yang akan digapai melalaui cipta karya, usaha dan kerja nyata.

Mimpi yang sering kita kenal sebagai sahabat alam bawah sadar, sedikit demi sedikit kita geserkan maknanya sebagai kerangka imaginasi, planning sekaligus tujuan hidup. Sehingga prospek rasional manusia lebih mendominasi kanal delusi emosi manusia.

Bung Karno pernah berkata demikian"Bermimpi lah setinggi langit, jika engkau terjatuh, akan terjatuh di antara bintang bintang".

Sepenggal kutipan pernyataan dari pemimpin besar revolusi, setidaknya memberikan makna yang luar biasa bagi kita generasi bangsa Indonesia. Ada main poin sekaligus titisan harapan kebahagian, pedoman hidup dan tujuan hidup sehat(akal dan cita cita) bagi anak bangsa.

Penulis hanya mampu menyimpulkan sedikit pesan tersirat dari sang founding father bahwasannya imaginasi, pedoman hidup , dan tujuan hidup sekiranya digariskan pada agenda kehidupan anak bangsa . Semuanya itu akan bermuara pada suatu harapan akan kebahagian sebagai sebuah kesimpulan mimpi. Mimpi setinggi bintang hanya termin yang memberikan kita underline tujuan hidup. Kita diajak untuk jadi manusia yang berjiwa besar, bercita cita besar, dan bertujuan hidup mulia. Dan pada akhirnya kita akan mendapati itu melalui kerja besar dan usaha keras.

Namun, dari petikan pernyataan dari sang proklamator, ada realitas ironis yang dihadapi oleh kita semua sebagai bangsa besar hari ini. Mimpi sebagai harapan manusia yang berjiwa besar di-block oleh tatanan kehidupan bernegara, di-block oleh kebijakan para komparador komparador oligarki hari ini.

Sebagai rakyat yang memiliki dasar negara yang kuat berjuang sekuat tenaga untuk mencapai cita cita atau mimpi sebagai garis perjuangan.

Hari ini, publik Nuca lale NTT sedang berkutat pada pro kontra hadirnya pabrik semen dan tambang batu gamping sebagai representasi kebijakan pemerintah provinsi NTT maupun kabupaten Manggarai Timur. Pro dan kontra mengisi ruang diskusi publik.

Kelompok pro bersama pemerintah mengedepankan kajian mimpi kesejahteraan masyarakat melalui hadirnya pabrik semen dan tambang batu gamping. Pemerintah menggarisbawahi kesejahteraan ekonomi,kemajuan pembangunan sebagai dalil hadirnya kebijakan ini.

Namun kelompok kontra lebih mengedepankan kajian dampak terhadap hadirnya pabrik semen dan tambang batu gamping Lingko Lolok, Manggarai Timur. Kelompok ini mengilhami bahwa mimpi kesejahteraan rakyat hanya sebuah mimpi(alam bawah sadar) bukan mimpi sebagai harapan jangka panjang rakyat Manggarai Timur. Mereka mendasari ini karena pengetahuan empiris hadirnya pabrik semen dan tambang batu gamping di Indonesia pun Tambang di Manggarai pada tahun sebelumnya. Indikasi pemerintah hanya ber halusinasi, adalah pedoman terbesar mendasari kelompok kontra mengutarakan penolakan.

Kelompok kontra,benar. Secara catatan data aktivitas tambang di Indonesia, kesejahteraan masyarakat memang hanya halusinasi belaka para oligarki. Tambang hanya mengendutkan rekening para tirani, pemerintah dan investor yang bersekutu.

Rakyat kecil sebagai korban ilusi pemerintah hanya mendapatkan luka yang dalam atas kebohongan, janji manis dan harapan palsu dari pemerintah. Mimpi memang luka bagi rakyat kecil.

Benarkah akan jadi luka? Akal sehat kita semestinya dikedepankan dalam menyambut kebijakan pemerintah provinsi NTT dan Pemda Manggarai Timur. Indonesia pada umumnya, mimpi mensejahterakan rakyat Indonesia tidak lebih dari sebuah alibi untuk merealisasikan nilai nilai dan tujuan Pancasila . Akan tetapi Pancasial selalu dialami oleh rakyat kecil. Peluang menang bagi rakyat kecil memang kecil. Maka benar, mimpi adalah luka bagi rakyat kecil.

Jika rakyat kecil dan kita semua tidak mendulangkan suara penolakan terhadap penjajahan post kolonialisme yang mengatasnamakan pembangunan dan kemajuan ekonomi, kita semua akan mengalami dan merasakan penderitaan akibat luka, dan darah titipan para pecundang demokrasi, pecundang dasar negara.

Mimpi adalah luka bagi rakyat kecil:mimpi sejahtera dihalangi oleh undang undang, dihalangi oleh kebijakan pemerintah yang akalnya blus , dihalangi oleh janji palsu para taipan tambang.

Mari berdikari dalam mimpi; berdikari secara ekonomi, politik dan budaya. Luka harus dicegah dan obati.jangan ulangi luka yang secara manusiawi kita sadar sebagai porsi buruk bagi kehidupan.

Raih mimpi tanpa luka. Menerima harapan dari taipan akan mendapatkan luka dan memar penjajahan.