Top Pick
Warga Watu Arus Soroti Kinerja Kades Paulus Anam Pemdes Repi Lembor Selatan Bangun Posko Covid-19 Kembali Zona Merah SMA Islam Muthmainah Ende Memberlakukan BDR 850 KK Kelurahan dapat Bantuan Sosial Tunai Partai Solidaritas Indonesia Belu membagikan 1.000 Masker Gratis Melalui Musyawarah, 22 Warga Desa Modo Dapat BLT Dana Desa

BOPLBF Laksanakan Gerakan BISA di Wilayah Destinasi Wisata Gua Rangko Mabar

(Masyarakat Rangko mengikuti kegiatan Bersih, Indah, Sehat, Aman bersama Pihak BOP, Minggu 27/9/2020)

 

POSTNTT.COM | Labuan Bajo – Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) kembali melaksanakan gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman) di kampung Rangko Desa Tanjung Boleng Kecamatan Boleng Manggarai Barat (Mabar), Minggu (27/9).

Kegiatan padat karya ini sebagai upaya pemulihan sektor pariwisata melalui penguatan destinasi wisata dengan menerapkan protokol kebersihan, kesehatan, keamanan, dan ramah lingkungan (Cleanliness, Health, Safety, Environment/CHSE) secara disiplin.

Kegiatan yang berlangsung di kampung Rangko Desa Tanjung Boleng yang merupakan wilayah destinasi wisata gua Rangko dihadiri Kesehatan ala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Mabar, Direktur Utama BOPLBF yang diwakili oleh Kepala Divisi Amenitas dan Daya Tarik Wisata Farhan Ryandi dan Kepala Divisi Aksesibilitas dan Infrastruktur Buyung Arif Nugroho keduanya dari Direktorat Destinasi, serta 100 peserta dari warga kampung Rangko.

Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Mabar  Agustinus Rinus, saat membuka kegiatan menerangkan, Gerakan Bersih, Indah, Sehat dan Aman (BISA) yang di gelorakan Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) hari ini di kampung Rangko bertepatan dengan hari Pariwisata Dunia.

“Melalui Gerakan BISA hari ini saya mengajak masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan dengan taat pada protokol kesehatan. Penyiapan fasilitas kebersihan seperti toilet dan tempat sampah juga infrastruktur penunjang keselamatan dan keamanan lainnya. Dengan begitu destinasi wisata gua Rangko siap menerima kunjungan wisatawan,” kata Agustinus.

Agustinus mengungkapkan, Gua Rangko adalah Destinasi kedua setelah TNK yang sering dikunjungi wisatawan baik Nusantara maupun Mancanegara.

Menurut Agustinus, salah permasalahan yang dihadapi wilayah Destinasi wisata gua Rangko saat ini adalah banyaknya sampah plastik bertebaran di sepanjang pantai yang berasal dari wisatawan dan masyarakat sekitar maupun dari laut. Agustinus berharap kesadaran masyarakat di sekitar gua Rangko dalam hal ini kampung Rangko dan sekitarnya.

“Terima kasih kepada BOPLBF atas perhatiannya melalui aktivitas gerakan BISA hari ini. Denfan kesadaran bersama dari masyarakat, semoga gua Rangko bisa menjadi destinasi yang bisa diandalkan kedepannya dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat disekitarnya," ungkapnya

Sementara itu Kepala Divisi Amenitas dan Daya Tarik Wisata BOPLBF Farhan Ryandi mewakili Dirut BOPLBF Shana Fatina mengatakan
Terima kasih kepada masyarakat kampung Rangko desa Tanjung Boleng, karena telah menerima kami dengan baik dan menunjukan semangatnya bahwa destinasi wisata gua Rangko sangat siap untuk menyambut pariwisata new normal,” ungkapnya

Farhan menjelaskan, Gerakan BISA digagas oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk mempersiapkan destinasi wisata dengan menerapkan protokol kesehatan (CHSE).

Menurut Farhan, setelah pandemi kebutuhan pariwisata kedepannya akan berubah total, bagaimana selera masyarakat, bagaimana cara mereka berinteraksi, dan bagaimana mencari destinasi yang ingin mereka kunjungi akan berubah semuanya, dan ini yang sedang disiapkan bersama Kemenparekraf.

“Bersama Kemenparekraf sedang kami siapkan untuk melihat kebutuhan pasar pariwisata kedepannya melalui studi khusus,” terang Farhan

Lebih lanjut Farhan menekankan, pengembangan pariwisata tidak hanya sekedar melayani wisatawan. Masa pandemi ini harus menjadi momentum untuk meningkatkan layanan melalui 3A, sehingga masyarakat makin mampu beradaptasi dengan kebiasaan normal baru.

Peran serta masyarakat untuk bersama-sama disiplin menerapkan protokol CHSE sangat dibutuhkan untuk menggerakkan pariwisata selain melalui pemenuhan berbagai keterampilan yang bisa mendukung industri kreatif lokal seperti kuliner dan kerajinan tangan, ungkapnya. *

 

Baca Juga