Top Pick
Cegah Covid 19, Arumba Bangun Pos Jaga dan Tempat Cuci Tangan Sadis! Selain Dituding Pembawa Virus, Petugas Medis Di Puskesmas Lembor-Mabar Ini Juga Mengaku Dipukuli Desa Watu Tiri melaunching Website Desa Peduli Covid-19, STKIP PI Makassar Salurbkan Bantuan Sembako Untuk Mahasiwa Tanda-Tanda Pasangan Kamu Selingkuh Dapil 3 Utus 10.000 Pendukung Hadir Deklarasi Paket Edi-Weng

Gawat, Hutan Lindung Bangga Rangga Digarap Warga

(Kondisi hutan Bangga Rangga yang telah digarap sebagai lokasi perkebunan kopi oleh masyarakat. Foto : Iren Leleng)

 

POSTNTT.COM |BORONG - Hutan Lindung Bangga Rangga yang terkenal hutan rimba itu 'dikeroyok' para perambah dari berbagai Desa di Kecamatan Poco Ranaka dan Pocoranaka Timur, kabupaten Manggarai Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur.

Informasi yang dihimpun POSTNTT.COM, Kamis (15/10/20220), dari 32.246 hektar hutan, sebanyak 3.500 hektar sudah dijadikan perkebunan liar. Terlihat jelas di hutan tersebut sudah dijadikan sebagai lahan perkebunan kopi.

Meski demikian hutan lindung tersebut terancam terus berkurang.

Ada banyak faktor, salah satunya disebabkan banyaknya warga yang menggarap wilayah hutan lindung dan dijadikan lahan pertanian dan perkebunan kopi.

Salah satu warga (penggarap) asal kampung Uwu Desa Wejang Mawe, yang enggan dimediakan namanya saat ditemui POSTNTT.COM, mengaku bahwa dirinya telah menggarap hutan lindung itu untuk dijadikan sebagai perkebunan kopi.

"Saya sudah lama menggarap dihutan lindung itu, untuk tanam kopi, yang walaupun itu dilarang," jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa, dirinya berani melalukan penebangan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

"Kami yang status jadi petani, tentunya untuk memenuhi kebutuhan hidup, yaa kami harus bertani dengan cara itu, tanah warisan kami tidak seberapa, hanya satu bidang saja, solusi untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan cara menggarap hutan lindung pemerintah," ujarnya Kepada POSTNTT.COM, Kamis (15/10/2020).

Kata dia, merela menggarap hanya untuk sesuap nasi, tidak lebih dari itu.

"Hanya itu saja yang kami harapkan," tuturnya.

Dikatakan penggarap itu bahwa, bukan hanya dirinya saja yang menggarap, ada beberapa masyarakat desa dari Kecamatan Pocoranaka dan Pocoranaka Timur.

Sementara itu kepala desa Wejang Mawe Raimundus Sali, di rumah kediamannya, Kamis (15/10/2020), Mengaku bahwa beberapa masyarakatnya telah menggarap hutan lindung di Bangga Rangga untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan kopi.

Raimundus Sali, menegaskan, pihaknya tidak berani ambil tindakan terhadap soal ini.

Raimundus mengharapkan pemerintah melalui Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi NTT cari langkah solutif terhadap penebangan liar di hutan Bangga Rangga.

"Kami sebagai pemerintah desa, tidak berani ambil langkah solutif, kami serahkan ke Dinas Kehuatanan Provinsi NTT, terkait masyarakat kami yang telah menggarap hutan lindung," ujar Raimundus.

Tambahnya, masyarakat Wejang Mawe sudah banyak yang telah menggarap hutan lindung untuk jadi perkebunan kopi, itu sebagai langkah untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Karena masyarakat Desa Wejang Mawe dominan petani.

"Sebagai petani, untuk bertahap hidup harus bertani," katanya lagi.

"Ada banyak warga yang telah merantau untuk bertahan hidup, mau mengharapkan hasil tani tidak cukup, makanya sebagian masyarakat menggarap hutan lindung untuk memenuhi segala kebutuhan," jelas Raimundus.

Raimundus pun meminta ketika ada pegawai Dishut yang monitoring di Lokasi hutan Bangga Rangga, jangan buat tindakan yang tidak diinginkan.

"Persoalan ini harus butuh diskusi serius, biar tidak seperti tragedi Rabu Berdarah beberapa tahun silam itu, karena masyarakat sudah merasakan hasil garapan hutan, dari hasil tani seperti kopi," tutup Raimundus. (Iren Leleng)

 

 

 

Baca Juga