Top Pick
Pelayanan Disdukcapil Matim Dikeluhkan Warga Tindak Lanjut Instruksi Bupati Manggarai Barisan Muda Wae Mbeleng Gelar Kerja Bakti New Normal, Koramil 1612-02 Komodo Pastikan Masyarakat Mabar Bermasker Setelah Belajar Bersama BPOLBF, Karang Taruna Desa Golo Bilas Mulai Berbudidaya Sayuran Hidroponik BPO-LBF dan Gubernur NTT Bersinergi Mendorong Industri Pariwisata NTT Untuk Pakai Kopi Lokal Persiapan Paroki Salib Suci Maurole Ende, Menuju Adaptasi Kebiasaan Hidup Baru

Mengenal Kampung Takpala, Warisan Sejarah Budaya Kehidupan Primitif Dunia di Pulau Alor

Kampung Takpala, salah satu spot wisata di Pula Alor. Foto : Ist

Sumber : Humas BPO- LBF

POSTNTT.COM | ALOR - Pulau Alor merupakan salah satu daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki pesona keindahan alam dan budaya yang sangat mengagumkan. Destinasi wisata bahari Alor merupakan yang paling banyak diminati wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara. Pulau Alor memiliki sejumlah spot selam terbaik yang karena keindahannya mampu menarik perhatian dunia. Half Moon Bay, Crocodile Rock, dan beberapa yang lainnya menjadi destinasi primadona tempat bermain para pecinta bawah laut.

Namun keindahan Pulau Alor tidak sebatas pada dunia bawah lautnya saja. Alor memiliki warisan kebudayaan leluhur yang unik dan otentik, bahkan mungkin tidak ditemukan di belahan lain di dunia ini. Warisan kebudayaan yang dijalani dalam bentuk adat istiadat ini menjadikan Alor lebih dulu dikenal wisatawan dengan sebutan pulau yang memiliki sebuah kampung tradisional dengan aktifitas kehidupan primitif. Aktifitas tersebut hingga saat ini bisa kita jumpai pada sebuah kampung budaya bernama Kampung Takpala.

Kampung Takpala mulai digaungkan sejak tahun 1973, ketika seorang wisatawan asal Belanda menampilkan foto-foto tantang kehidupan tadisional warga kampung tersebut pada sebuah kalender sehingga menarik perhatian wisatawan asal Eropa lainnya untuk mengunjungi tempat ini. Sejak saat itu, Kampung Takpala menjadi tersohor dan ramai dikunjungi oleh wisatawan mancanegara sehingga ikut dikenal dinegeri sendiri pada tahun 1980 saat menjadi Juara II pada ajang penghargaan Desa paling Tradisional di Indonesia, dan pada tahun 1983, Pemerintah Kabupaten Alor menjadikan Kampung Takpala sebagai ikon pariwisata Alor.

Kampung Takpala dihuni oleh 13 Kepala keluarga warga suku Abui, suku terbesar di Pulau Alor. Sebutan lain bagi suku Abui adalah orang gunung (merujuk pada geografis wilayah tempat tinggal). Pada mulanya suku ini tinggal di daerah pedalaman wilayah pegunungan Alor. Kemudian pada tahun 1939 mereka dipindahkan ke area perbukitan agar memudahkan kegiatan pemungutan pajak yang dilakukan oleh petugas kerajaan yang diperintah raja Alor pada saat itu. Kata Takpala sendiri berasal dari kata Tak dan Pala. Kata Tak berarti ‘ada batas’ dan kata Pala berarti ‘kayu’, sehingga kata Takpala diartikan “kayu pembatas”.


Halaman