Top Pick
Marten Mitar : Abaikan Paket Pilkada, Tekadkan Paket Kesejahteraan Pasien Covid-19 di Manggarai Barat Meningkat Jelang Pelantikan Ketua DPRD Mabar, Ini Hal yang Dilakukan Sekwan Memarkir Kendaraan Diatas Trotoar Bisa Dipidana Loh, Simak Ulasannya Reses Sidang I, Julie Laiskodat Bantu Korban Kebakaran Pasar Lembor Medsos Dihebokan Beredarnya Foto Wabub Matim, Ini Kata Kabag Humas

Proses Pendidikan di Daerah pada Masa Pandemi

Oleh : Roy Nabal

Tulisan in hanya sebuah tulisan suka-suka, dan juga ada curhatan di dalamnya. Semoga ini tidak berlebihan. Tulisan ini hanya mau mengingatkan kepada kita semua bahwa pandemi ini membuat kita semua harus mengorbankan banyak hal, dan kita perlu menekannya agar kita tidak perlu lebih banyak lagi berkorban.

Tidak ada yang tahu sampai kapan pandemi akan berakhir. Dan seperti yang kita ketahui bersama bahwa keadaan saat ini (pandemi) berdampak pada banyak bidang kehidupan. Demikian juga dengan bidang pendidikan.

Kendatipun demikian, kegiatan pendidikan masih dituntut untuk terus berjalan. Sebuah pilihan yang sulit dilakukan. Karena tentunya masih harus tetap memperhatikan situasi dan tetap memutuskan mata rantai penyebaran virus. Proses pendidikan di tengah pandemi ini sejauh pengamatan penulis dilakukan dengan dua cara yakni pembelajaran berbasis online atau dengan guru datang ke setiap rumah siswa untuk melakukan proses pembelajaran.

Di kota-kota besar, tuntutan tetap berjalannya proses pendidikan pasti tidak terlalu berat untuk dilakukan. meskipun tanpa menggunakan pembelajaran berbasis online, setidaknya jika pembelajaran dilakukan di tiap-tiap rumah siswa, masih didukung dengan akses tranportasi yang terbilang cukup dan bahkan sangat baik.

Lain hal dengan yang terjadi di daerah-daerah. Proses pendidikan selama pandemi ini terbilang cukup berat untuk dilakukan. Meskipun saya tidak merasakannya secara langsung, tetapi sejauh pengamatan saya, tidak sedikit pengorbanan yang dilakukan agar kegiatan pendidikan tetap terlaksana. Dan saya bisa dengan jelas mengatakan bahwa proses pendidikan tidak bisa dikatakan berjalan dengan baik.

Di daerah-daerah, sangat tidak mungkin ketika proses pembelajaran dilakukan secara online. Banyak keterbatasan yang dimiliki. Mulai dari perangkat-perangkat pendukung seperti komputer ataupun HP pintar. Hanya sebagian kecil yang memilikinya. Belum lagi bagaimana menggunakannya atau mengoperasikannya. Tak dapat disangkal bahwa di daerah-daerah hanya segelintir orang yang mampu mengoperasikan perangkat-perangkat teknologi.

Demikian halnya dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan cara door to door. Yang berarti tuntutan lebih di-titik-beratkan ke guru-guru. Memang pada dasarnya bisa dilakukan, tetapi, saya kembali tidak yakin bahwa pembelajaran dengan cara tersebut bisa membuahkan hasil. Ada beberapa faktor yang sekiranya menjadi pertimbangan kenapa saya mengatakan bahwa hal tersebut tidak akan membuahkan hasil.

Pertama, siswa-siswa di daerah tidak berasal dari daerah yang sama dengan tempat sekolah (lembaga) berada. Ada yang dari daerah yang sama dengan letak Sekolah, tetapi tidak sedikit pula yang berasal dari daerah-daerah yang tempat tinggalnya terletak berkilo-kilo meter dari sekolah. Jadi, ketika pembelajaran dilakukan di tiap-tiap rumah siswa, bayangkan berapa banyak waktu yang dibutuhkan. Sehingga, dari segi waktu sudah sangat tidak efisien.

Kedua, akses jalan di daerah-daerah jangan pernah dikira seperti di kota-kota. Di daerah-daerah akses jalan masih sangat buruk, ada yang tidak bisa dilalui kendaraan, dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki, belum lagi kebanyak rumah-rumah siswa letaknya di daerah pegunungan. Jadi, bisa dibayangkan kalau pembelajaran akan sangat tidak efektif. Karena, dengan kondisi yang demikian bisa menurunkan semangat guru dan turunnya motivasi guru. Menurunnya semangat serta tidak termotivasinya guru akan berdampak pada tidak efektinya proses pembelajaran yang dilakukan. Sebuah kebohongan jika masih dikatakan baik-baik saja, berjalan tanpa hambatan, dan hasilnya memuaskan.

Perlunya komitmen Pemerintah

“… mencerdaskan kehidupan Bangsa”
Semua orang pastinya sudah mengetahui cita-cita luhur kemerdekaan tersebut. Dan Pemerintah adalah orang pertama yang memastikan dan bertanggung jawab tetap terwujudnya cita-cita luhur tersebut hingga zaman ini demi kemajuan Bangsa dan Negara.

Pada masa pandemi ini, komitmen pemerintah untuk tetap mewujudkan cita-cita luhur tersebut diuji. Tentang sejauh mana komitmen itu. Pemerintah perlu memperhatikan banyak hal terkait proses pendidikan di tengah situasi ini.

Pembelajaran berbasis online

Pembelajaran berbasis online tentunya memiliki banyak keuntungan, dari segi waktu sangat efisien, dan juga sangat baik untuk dilakukan karena proses pendidikan dapat tetap berjalan dengan baik sekaligus di sisi lain mampu memutuskan mata rantai penularan virus corona.

Namun, untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran berbasis online, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, kesiapan sarana dan prasarana. Pembelajaran berbasis online tentunya akan dapat berjalan ketika perangkat-perangkat teknologi tersedia seperti komputer atau HP pintar, kuota internet, jaringan atau signal, arus listrik, dan lain sebagainya.

Kedua, sumber daya manusia. Perangkat-perangkat yang tersedia tentunya dapat bekerja sesuai dengan tujuan jika sumber daya manusia yang mengoperasikannya mumpuni, dalam hal ini adalah baik guru-guru maupun siswa harus mampu mengoperasikannya.

Ketiga, kesiapan mental psikologis. Tentunya pembelajaran berbasis online adalah sesuatu yang bisa dikatakan tidak seperti biasanya, proses yang dilakukan berbeda, metodenya pun sedikit berbeda. Hal ini tentunya akan sedikit berpengaruh pada mental psikologis baik guru maupun siswa.

Pembelajaran berbasis online jika dicermati penjelasan sederhana di atas tentunya akan membutuhkan banyak perngorbanan dan juga perlu komitmen yang sangat serius untuk mewujudkannya. Dan ya, saat ini hal tersebut masih tidak bisa dilakukan. Terlihat jelas bahwa di daerah-daerah pembelajaran berbasis online belum pernah dilakukan. Sehingga alternatif yang diambil adalah pembelajaran door to door.


Pembelajaran door to door

Pembelajaran door to door adalah sebuah proses pembelajaran yang dilakukan dengan cara guru datang ke setiap rumah-rumah siswa. Model pembelajaran ini seperti les privat. Dan di daerah-daerah yang terjadi adalah pembelajaran model ini. Jika dicermati, pembelajaran model ini menitikberatkan kepada guru. Dan tentunya memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.

Kelebihan dari model pembelajaran ini seperti pada les privat, di mana guru akan fokus untuk memberikan pembelajaran kepada satu orang siswa atau beberapa orang siswa. Sehingga, siswa mampu menyerap pelajaran dengan baik, dan guru juga mampu dengan baik melihat kekurangan siswanya terkait pelajaran yang diberikannya.

Tetapi, untuk konteks pendidikan dari rumah ke rumah di daerah yang dilakukan oleh guru pada situasi pandemi yang terjadi saat ini memiliki kekurangan yang sangat banyak. Hal ini terjadi bukan pada siswanya tetapi pada guru-gurunya. Bukan meragukan profesonalitas guru-guru, tetapi nyatanya banyak faktor yang mempengaruhi terwujudnya proses pembelajaran baik dari model pembelajaran door to door.

Pertama, dari segi waktu. Pembelajaran door to door pastinya membutuhkan banyak waktu. Bisa dikalkulasikan berapa banyak waktu yang dibutuhkan agar proses pembelajaran dapat berjalan. Jika konsepnya adalah setiap siswa mendapatkan kesempatan yang sama dalam pembelajaran, jika jumlah siswa yang mengikuti mata pelajaran tersebut sesuai aturan rombongan belajar yakni 28 orang, jadi kita bisa bayangkan jika setiap siswa melaksanakan proses pembelajaran selama (minimal) satu jam, maka dibutuhkan waktu 28 jam untuk menyelesaikan proses pembelajaran untuk satu mata pelajaran. Kalaupun pembelajaran bisa dilakukan secara berkelompok dan mengikuti aturan protokol kesehatan yakni tidak boleh lebih dari 5 orang, maka pembelajaran dilakukan untuk 7 kelompok belajar, 4 siswa ditambah satu guru. Jika satu kelompok belajar memerlukan minimal satu jam pembelajaran, maka dipastikan untuk tujuh kelompok membutuhkan waktu tujuh jam.
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membutuhkan waktu yang banyak. Bisa dikatakan bahwa pembelajaran seperti ini tidak efisien.

Kedua, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Baik pembelajaran yang dilakukan di kelas ataupun pembelajaran door to door memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilannya. Salah satunya adalah motivasi guru.

Penelitian yang dilakukan oleh Ester Manik dan Kamal Bustomi dengan judul “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Budaya Organisasi Dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru Pada Smp Negeri 3 Rancaekek” didapatkan bahwa motivasi kerja guru mempengaruhi secara signifikan terhadap kinerja guru.

Demikian halnya dengan penelitianyang dilakukan oleh Rosita Bestiana yang berjudul Hubungan Kepuasan Kerja, Motivasi Dan Komitmen Normatif Dengan Kinerja Guru SMPN 1 Rantau Selatan - Labuhan Batu di mana Motivasi kerja mempunyai hubungan positif yang signifikan dengan kinerja guru di SMP Negeri 1 Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu.

Dari penelitian ini kita bisa melihat bahwa motivasi yang tinggi tentunya akan membuat kinerja guru semakin baik. demikian sebaliknya, bahwa motivasi yang rendah akan menyebabkan kinerja guru yang kurang baik. Terkait proses pembelajaran door to door di daerah-daerah, faktor motivasi sangat mempengaruhi dan tak dapat diabaikan. Jika kita menyimak penjelasan di atas tadi bahwa lokasi rumah-rumah siswa yang tidak berdekatan, akses transportasi yang minim dan bahkan hanya bisa dilalui jalan kaki, dan juga waktu yang dibutuhkan begitu banyak, tentunya akan menurunkan motivasi kerja guru yang berdampak pada rendahnya kinerja.

Pemerintah sangat perlu memperhatikan hal ini dengan meperhatikan kesejahteraan guru. Dengan kesejahteraan yang diperhatikan maka akan meningkatkan motivasi guru dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya.

Tawaran Strategi Pembelajaran

Ada sebuah strategi pembelajaran baru yang sekiranya bisa membantu kegiatan pendidikan di tengah masa pandemi ataupun bencana lain yang melumpuhkan aspek pendidikan. Strategi ini sebenarnya telah lama dikonsepkan tetapi mungkin baru untuk kita di Indonesia. Metode tersebut adalah metode Flipped Classroom, yang jika di-Indonesiakan menjadi kelas terbalik.

Fliped Classroom adalah sebuah strategi pendidikan atau pembelajaran yang merupakan kebalikan dari strategi pembelajaran yang biasanya kita jumpai atau kita laksanakan. Memang pada dasarnya, konsep pembelajaran seperti ini belum pasti, karena ada beberapa variasi dalam pengimplementasiannya. Namun, yang pasti pembelajaran ini berkebalikan dengan pembelajaran pada umumnya. Jika biasanya pembelajaran dilakukan dengan adanya interaksi siswa dan guru dalam lingkup ruang kelas lalu siswa diberikan tugas untuk dikerjakan di rumah, sementara pembelajaran dengan strategi flipped classroom dibalik menjadi siswa melakukan proses pembelajaran di rumah melalui bantuan teknologi dan ke kelas untuk mengerjakan soal pemahaman dan penguasaan materi yang telah dilakukan.

Strategi ini muncul berangkat dari pemikiran Jonathan Bergmann, seorang guru kimia SMA Woodland Park, Colorado tentang siswanya yang absent karena sesuatu hal, di mana siswa tersebut akan ketinggalan materi dan jika kembali hadir di kelas maka mau tidak mau harus melangkahi suatu topik pembelajaran dan melanjutkan pembelajaran seperti siswa lain.

Pemikiran Jonathan ini tentunya memberikan salah satu point penting bagi pelaku-pelaku pendidikan di dunia, strategi ini perlu dipertimbangkan untuk digunakan. Dan pada masa ini, bagi penulis, strategi ini perlu dipertimbangkan untuk digunakan. Karena pada situasi ini dua tuntutan yang berat (seperti yang dijelaskan di atas) yakni tetap terlaksananya proses pendidikan sekaligus tetap menjaga kesehatan, yang salah satunya hindari kontak langsung. Hanya konsep awal dari strategi ini adalah menggunakan perangkat teknologi dan berbasis online.

Hemat penulis, strategi flipped classroom ini bisa dilakukan di tengah situasi kita saat ini, hanya perlu dirancang agar pembelajaran ini tidak berbasis online. Bagaimana caranya?

Seperti dilansir dari media daring gurusukses.com, pembelajaran dengan strategi flipped classroom menuntut siswa untuk mempelajari mata pelajaran di rumah melalui meninton video pembelajaran, membuat rangkuman, mencatat hal-hal penting, membuat pertanyaan, dan lain sebagaianya. Jadi, hal yang perlu dilakukan oleh seorang guru adalah membuat atau merekam video pembelajaran berisikan materi-materi yang dipelajari lalu disebarkan kepada siswa dan meminta siswa untuk merangkum materi yang disampaikan dan memberikan tugas untuk dikumpulkan guna mengukur pemahaman siswa.

Banyak kemudahan yang didapatkan dengan menggunakan strategi ini, yakni pembelajaran dapat berjalan dengan baik, efektif dan efisien, siswa dapat melakukan pause dan menonton ulang ketika materi masih belum dipahami, guru tak perlu melakukan perjalanan jauh untuk melakukan persoses pembelajaran, dan yang lebih penting tidak terjadi kontak langsung. Syarat yang perlu diperhatikan oleh siswa adalah handphone untuk memutar video rekaman materi yang telah dibuat oleh guru. Kalaupun tak memiliki HP, setidaknya memiliki memory card dan meminjamkan HP saudara atau orangtua atau teman terdekat untuk memutar video. Hal ini tentunya tidak membutuhkan banyak biaya yang cukup besar seperti pembelajaran berbasis online, ataupun membutuhkan banyak waktu seperti pembelajaran door to door. Sehingga, proses pendidikan masih tetap berjalan dengan baik dan juga proses memutuskan mata rantai penyebaran virus dapat berjalan.

 

Artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.


Halaman