Top Pick
Langkah Cepat Tangani Covid-19, Pemerintah Kerahkan Dokter Keliling Dari Rumah Ke Rumah Kurangnya Komunikasi dan Koordinasi Dinilai Sebagai Pemicu Konflik (Catatan Seputar Polemik Lokasi Check Point di Wilayah Perbatasan Manggarai-Manggarai Barat) Lurah Paupire : Soal Izin dan Retribusi Kos -Kosan itu Ranahnya Bapenda Ende Soal PSBB, Presiden Jokowi Minta Masyarakat Disiplin dan Ikuti Protokol Kesehatan Ini Enam Figur Baru di Kabinet Indonesia Maju Di Tengah Pandemi, Volume Lalu Lintas Komoditas Pertanian Asal Flores Meningkat

Seorang Istri di Matim Polisikan Suami Karena KDRT

(Iustrasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Foto : istimewa )

 

POSTNTT.COMBorong -Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sudah menjadi fenomena sosial yang sering terjadi di semua lapisan masyarakat, baik kelas ekonomi tinggi maupun bawah. Korban kekerasan terbesar menimpa perempuan.

Kali ini tindakan pidana kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kembali menimpa seorang ibu rumah tangga dari desa Satar Nawang, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, yang bernama Beatrix Indra Jaul (22). Korban mengaku sering mendapatkan KDRT dari suami.

Dari kejadian tersebut korban merasa tidak terima dan akhirnya korban melaporkan pelaku (suami) ke Polres Manggarai Timur.

Korban datang ke Polres Matim dengan didampingi oleh keluarganya, Kamis (22/10/20) pukul 01.45 Wita.

Kepada media ini Beatrix, Senin (25/10/20) di Borong mengatakan, bahwa dirinya sudah tak sanggup lagi menghadapai kelakuan suaminya yang sering melakukan tindakan kekerasan terhadap dirinya.

Ia mengaku, tindakan kekerasan yang ia alami dari suaminya sejak tahun 2017 lalu. Akibat tak tahan lagi dengan perlakuan suaminya itu, ia memutuskan untuk melaporkan tindakan suaminya ke Polres Matim.

“Saya sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan suami saya. Sejak tahun 2017, setiap kali pulang kerja Saya sering dipukul, namun sejak itu saya takut untuk menyampaikan ke orang tua saya. Sampai Saya meminta agar dia (pelaku-red) menceraikan saya.

Korban mengungkapkan kejadian Rabu 21 Oktober 2020 lalu, kondisi tubuhnya kurang sehat, pada saat yang sama, ia sedang menjaga anaknya yang juga sedang sakit.

“Ia memaksa untuk melakukan hubungan intim, saya menolak karena kondisi kesehatan saya terganggu (sakit). Tidak terima dengan penolakan itu, ia langsung menganiaya Saya,” kata korban, sembari meminta agar Polisi menindaklanjuti laporan nya itu.

Akibat penganiayaan itu, korban mengalami luka lebam di bagian pinggul, paha, kaki dan pelipis mata, bahkan sim card pada hp korban diambil oleh pelaku, agar korban tidak melapor ke orang tuanya.

“Saya memutuskan untuk melarikan diri, dan mencari perlindungan ke tetangga. Saat itu juga saya langsung menghubungi keluarga saya yang ada di Ruteng untuk menjemput saya,” ungkap Beatrix.

Namun hingga berita ini diturunkan, pelaku belum berhasil dikonfirmasi. (Iren Leleng).

 

 

Baca Juga