Top Pick
Jajaran BOPLBF Tandatangani Pakta Integritas Sebagai Wujud Komitmen Penyelenggara Negara Gugatan Pilkada, Mabar Tidak Termasuk yang Penuhi Syarat Ambang Batas Dua Politisi Nasdem Salurkan Bantuan Korban Erupsi  Ile Lewotolok. Untuk PJJ 2021, Kemendikbud Hanya Menyediakan Kuota Umum Breaking News : Bertambah 9 Orang Positif Covid-19 di Manggarai Barat, 7 Diantaranya Asal Lembor Malaka Bangkit, Bermartabat dan Malaka Sejahtera Bersama EB-RTS

Tak Mau Meninggal di Rantauan, Perantau Asal Manggarai ini pilih Pulang Kampung

POSTNTT.COM | Labuan Bajo - Corona Virus disease 19 (Covid-19) terus menyerogoti kehidupan sosial - ekonomi masyarakat penjuru dunia. Alhasil, pandemi ini mampu melumpuhkan negara-negara maju. Tak terkecuali, negara Indonesia juga ikut mendapat dampak besar akibat pandemi covid-19. Banyak perusahaan sebagai pelaku usaha menutup usahanya hingga waktu yang ditentukan. Hal inipun menyebabkan banyak karyawan perusahaan yang dirumahkan dan tidak mendapat gaji.

Seperti yang dialami oleh sejumlah perantau yang memilih pulang kampung karena perusahaan telah merumahkan mereka.

Yoseph (28) asal Manggarai kepada POSTNTT.COM pada minggu (5/4/2020) saat di jumpai di pelabuhan pelni Labuan Bajo mengatakan jika keputusan pulang kampung merupakan sebuah keputusan yang berat. Di satu sisi harus mengikuti himbaun pemerintah tetapi di sisi lain, memilih bertahan hidup di tanah rantau tanpa penghasilan adalah sebuah keniscayaan.

Tonton Juga : Video Desa Lendong Covid-19

"Saya sadar kedatangan saya akan menciptakan rasa cemas dan takut bagi banyak orang di kampung. Bahkan keluarga juga paksa saya agar tidak usah pulang kampung. Tetapi, saya tidak ada pilihan lain. Selain karena kebutuhan hidup yang harus terpenuhi, seperti makan sehari-hari, hal tersebut juga diperparah karena memilih tinggal di Bali dengan tidak ada penghasilan sama dengan bunuh diri to?", kata Yoseph.

Sementara itu, Merlin (26), salah satu perantau dari Surabaya juga menyampaikan hal serupa. Menurut Merlin, keputusan untuk pulang kampung adalah sebuah keputusan untuk meringankan beban hidup dari tekanan ekonomi.

Baca Juga : Badan tak Normal, 4 Penumpang Kapal di Reok akan diperiksa di RSUD Ruteng 

"Lebih baik mati di kampung saja kaka, daripada mati kelaparan di Surabaya", ungkap Merlin singkat.

Sementara itu, melalui status media sosial, hujatan dan kekecewaan terhadap kedatangan ratusan pemudik ke Manggarai terus dilontarkan.

Baca Juga : Selaian Edukasi dan Pendataan, Pemdes Lendong Gelar Semprot Desinfektan di Perumahan warga mencegah Covid-19

Seperti status FB akun NH menuliskan "Apa maime lawa (untuk apa kamu datang)".

"Ketika himbauan petugas tidak diindahkan maka kita siap jadi daerah darurat covid-19", tulis akun FB lainya, NN.

Untuk diketahui, pada Minggu malam (5/4/2020) melalui pelabuhan Pelni Labuan Bajo, KM Tilong Kabila menurunkan 905 penumpang dengan tujuan 705 orang ke Manggarai Barat, 150 orang ke Manggarai, 23 Manggarai Timur dan 27 orang ke kab. Ngada.

 

 

Penulis : Edi Risal

 


Halaman