Top Pick
Pengerjaan Pembangunan Kantor Desa Rengkam Tanpa Papan Informasi Diduga Melakukan Korupsi, Kades Rengkam Diperiksa Polisi Pihak Sekolah Apresiasi Kemekominfo RI Perihal Bantuan Wifi Gratis 13 SMP Di Matim Bedah Buku "Masyarakat Mbay Dalam Sangketa Pembangunan Saluran Irigasi Mbay Kiri" Cegah Kluster Baru Jelang Natal dan Tahun Baru, Ini Imbauan Kapolres Matim Rapat Banggar, DPRD Matim Menyoroti Empat Poin

Tentang Rindu (Puisi-Puisi Carolina Riflina Adak)

(Carolina Riflina Adak, Apoteker Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo menyukai Satra. Foto: ist)


DAUN

Bisa jadi kau lupa berbelok
Saat cinta itu datang menengok
Kau tiba-tiba jadi yang paling elok
Paling lurus dari semua yang terlihat bengkok
Hei berdua!
Kali selalu saja menumpuk
Dari dan sampai tak ada lagi ayam berkokok
Hubungannya dengan daun?
Bisa saja oleh kaki dia terinjak
Gugur dari tempat yang berinya bentuk
Bukan berarti bersama akan selalu dikutuk
Tapi ingatlah bahwa jatuh itu menusuk


KULI PEMIKUL BATU

Seperti kuli memikul batu
Kau gigih menanggung malu
Tangan kaki luka habis
Hati kau biarkan terkikis
Upah kecil buatmu kenyang hanya dengan air
Seperti cinta terbalas dengan kalimat maaf
Namun kau puas hanya lihat wajah
Kau pejuang cinta
sama dengan kuli pemikul batu
Kau tahu upah kan kecil
Beban tak kan ringan
Namun buat makan, apalah saja bolehlah
Sama saat cinta
Masuk dalam nadi
Kau tahu kan luka
Namun buat bahagia, juang tak pernah salah


KAMUFLASE

Kau bersembunyi dibalik daun kuning
Yang telah kering diserap mentari
Wajahmu mendadak pucat pasi
Sama dengan putik bunga disamping daun kuning
Kau melapis tubuhmu dengan selimut ranting
Yang lapuk termakan rayap
Coklat, ada hitamnya
Kenapa? kamuflase?
Kau terlalu kentara.
Keluar dan hadapi saja cintamu
Cinta yang tragis wahai nona manis


RINDU

Gersang, ku rasa hatiku lubang
Kosong, tak ada suara berdendang
Rindu menggerogoti hingga bolong
Kuranglah rayap melapukan kayu
Aku terus nangis dengar lagu sendu
Seolah hilang jiwa karna tak berjamah
Aku benci pada rindu yang nyata
Salahkah pulau harus terpecah
Lalu air membatasi kita tuk jumpa?
Sampai kapan kita kan begini?
Menanggung rindu yang tak mau beralih
Dia betah menunggu
Semakin kasar seiring waktu
Kita mungkin terjajah rindu
Hingga nanti tiba waktu
Kita tertawa melihatnya jatuh
Ya, rindu yang jatuh saat kita bertemu.


Halaman