Top Pick
Perkuat Pencegahan Covid-19 Pada Sektor Pariwisata, BOPLBF Alokasikan Anggaran 4 Miliar Cegah Covid-19, Patris Lali Wolo Bagikan 1.000 Masker Gratis Peduli Covid-19, Media Group Memberikan Bantuan APD Kepada Pemerintah Manggarai Barat PSBB Di Makassar, Mahasiswa NTT Dapat Bantuan Sembako GAMMARA Makassar; Tambang Bukan Prime Mover Ekonomi NTT. Tolak!! Bantu Pendidikan di Indonesia, Telkomsel Bersama Kementrian Agama RI, Hadirkan Program Kuota Terjangkau

Usai Dikeroyok, Ditetapkan Jadi Tersangka, Kini Korban Ditahan

POSTNTT.COM | Labuan Bajo - Nasib sial sedang menimpa seorang kepala tukang bangunan di Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat. Dia adalah Hironimus Jandu, warga kabupaten Manggarai yang saaat ini sedang mengadu nasib di kota pariwisata super premium.

Siapa sangka, kiatnya mencari nafkah harus terhenti sesaat. Bukan tanpa sebab, pria 40 tahun itu harus berusan dengan hukum. Bahkan, harus mampu melewati masa-masa sulit di balik jeruji besi sebagai tahanan.

Hironimus ditahan dengan tuduhan sebagai pelaku kekerasan terhadap LH. Diapun dilaporkan oleh LH ke Polres Manggarai Barat pada 21 Juni 2020 lalu.

Sebelumnya, pada tanggal 19 Juni 2020, Hiro melaporkan LH bersama rekan-rekanya dengan laporan sebagai pelaku pengoroyokan.

Namun laporan Hironimus ternyata kalah cepat dalam proses penetapan tersangka jika dibandingkan dengan laporan LH yang dua hari setelah laporan Hironimus di Polres Manggarai Barat.

Hironimus yang mengalami luka sobek di sekitar wajah harus mampu menelan pil pahit. Mendapat perlakuan kejam dari sekelompok anak buah tokoh bangunan, tokoh hasil Labuan Bajo, dirinya juga harus terpaksa menyaksikan anak gadisnya Karolina (17) terkapar karena amukan para pelaku disaat Karolina menyelamatkan dirinya.

Hironimus ditetapkan sebagai tersangka pada sabtu (18/07/2020). Selanjutnya, pada senin (20/07/2020) ia langsung ditahan di Polres Manggarai Barat.

Sementara, pihak kepolisian Manggarai Barat melalui kepala satuan resese kriminal AKP Labartino Silaban, SH., SIK tidak memberikan komentar terhadap kasus ini.

Saat dijumpai di kantor Polres Manggarai Barat pada Senin (20/07/2020) lalu, dihadapan sejumlah awak media, tanpa sepatah kata, dirinya mengangkat tangan memberikan sinyal penolakan untuk diwawancarai.

Kepada Sejumlah awak media, pada senin (20/07/2020) Hironimus menuturkan kronologis kasus yang menimpa dirinya itu.

"Kejadian itu malam hari, ada mobil L300 (pikap) parkir di depan rumah kontrakan saya, yang saksikan adalah anak saya juga, saya dipukul hingga berdarah, di wajah saya," katanya.

Dijelaskannya, kendaraan yang terparkir membawa belasan orang termasuk LH, sopir kendaraan pengantar material toko bangunan Hasil, Labuan Bajo.

Selanjutnya, terdapat 4 orang yang turun dan menanyakan keberadaan dirinya kepada anak laki-laki Hironimus.

"Turun 4 orang tanya saya di mana, katanya ke anak laki-laki saya yang masih kecil bilang, ade Om Iron om iron di mana, saya ada di belakang rumah, karena saya dipanggil, saya ke depan, lalu saya ketemu mereka," ujarnya.

Setelah menemui orang yang tidak dikenalnya, seorang pelaku langsung menariknya keluar dari dalam rumah dan ia pun dikeroyok secara membabi buta.

"Kurang lebih rombongan mereka ada 13 orang yang keroyok saya," tambahnya.

Anak perempuan Iron bernama Dayanti Karolina Laum (17), yang juga berada di lokasi kejadian mencoba melerai agar ayahnya tidak lagi dianiaya, namun ternyata Dayanti pun turut menjadi amukan para pelaku.

"Saya dipukul hingga terkapar. Anak perempuan saya juga dipukul hingga terkapar," ungkapnya.

Beruntung saat itu, terdapat seorang anggota TNI yang melintas di lokasi kejadian dan membantu dirinya dengan melerai pengeroyokan tersebut.

Diakuinya, ia tidak melakukan perlawanan dan hanya pasrah saat dianiaya karena kalah jumlah. Ia mengalami luka di bagian wajah dan sakit di sekujur tubuhnya.
Iron selanjutnya menuju Mapolres Mabar untuk mengamankan diri agar tidak terjadi upaya oleh rekan dan keluarganya untuk membalas perbuatan para pelaku.

"Saya takut reaksi keluarga saya, dan justru menimbulkan masalah baru sehingga saya memilih untuk mengamankan diri di Kantor Polisi" ungkapnya.

Keesokanya, pada tangg 19 Juni 2020, ia melaporkan kejadian tersebut ke SPKT Mapolres Mabar dan laporan tersebut tertuang dalam nomor laporan polisi Nomor : STPL/87/V/2020/NTT/Res Mabar tertanggal 19 Juni 2020.

"Saya sudah jalani visum dan sudah diperiksa," jelasnya lagi.

Iron mengaku, kejadian ia dianiaya LH cs berawal dari selisih paham pada Kamis (18/6/2020) sekitar pukul 15.00 Wita.

LH yang merupakan sopir toko bangunan  Toko Hasil, dan saat itu mengantarkan sejumlah material granit yang dipesan Iron.

LH bersama rekannya mengantarkan barang tersebut menggunakan truk di rumah yang tengah dikerjakan oleh Iron di Gang Tengah, Cowang Dereng, Desa Batu Cermin.

Namun, karena teras rumah yang hendak dijadikan tempat diletakkan granit tersebut telah dipenuhi oleh material, sehingga Iron meminta Nardi bersama rekannya untuk mengangkat granit itu ke dalam rumah.

"Saya katakan ke dia, jangan turunkan di teras, mereka bilang itu aturan toko, saat di batas belakang oto kami kasih turun. Saya belum selesai omong langsung balik muka, saya pegang bajunya dari belakang supaya bersama cari solusi," paparnya.

Setelah itu, Iron bersama LH dan beberapa orang lainnya langsung menurunkan granit di dalam rumah dan tidak terjadi masalah.

Iron tidak mengetahui bahwa LH yang tidak terima selanjutnya melakukan penganiayaan terhadap dirinya.

"Saya merasa pada siang itu tidak ada masalah karena kami sesaat setelah salah paham terjadi kami bersama menurunkan granit itu dari mobil. Karenanya, begitu rombongan mereka datang dan mencari dan mengeroyok saya di rumah, saya benar-benar kaget," katanya.

Tak hanya itu, dirinya semakin kaget karena setelah dirinya melaporkan LH bersama rekanya atas pengoroyokan terhadap dirinya, LH juga membuat laporan yang sama ke Mapolres Mabar pada 21 Juni 2020 dan laporan LH diproses lebih cepat sehingga dirinya ditetapkan mejadi tersangka terlebih dahulu sebelum pelaku pengoroyokan terhadap dirinya di tetapkan jadi tersangka pula.

"Saya diberitahu sudah menjadi tersangka pada hari sabtu (18/07/2020) karena dilaporkan oleh LH.
Sementara saat itu, saya tidak tahu bagaimana proses lanjutan atas laporan saya. Barulah hari ini (senin/20/07/2020), saya diberitahu kalau sudah ada penetapan tersangka untuk kasus yang saya laporkan," katanya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian Manggarai Barat belum memberikan penjelasan terkait kasus ini. Selain itu, LH bersama sejumlah rekanya juga belum berhasil dihubungi. (*)