Top Pick
Pengadilan Negeri Tondano Minahasa Resmikan Identitas sebagai Laki-Laki, Aprilio Perkasa Manganang Menangis Haru Peduli Covid-19, Media Group Memberikan Bantuan APD Kepada Pemerintah Manggarai Barat Kisah Pilu Bayi Hidrosefalus di Ende Butuh Bantuan KPK Apresiasi Terobosan Bupati Manggarai Barat KPK Ingatkan Hotel BUMN yang Tunggak Pajak 1.8 M Langkah Kreatif Bupati dan Wabup Matim di Puji Menparekraf, Sandiaga Uno

Yuk! Eksplore Pesona Nagekeo di Kampung Adat Tutubhada

Kampung Adat Tutubhada. Foto: ist

 

POSTNTT.COM | NAGEKEO - Namanya Tutubhada. Sebuah kampung adat yang menakjubkan di Desa Rendu Tutubhada, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, NTT. Arsitektur rumah adat yang kental tradisional menambah kesan artistik. Ukiran pahatan berbentuk manusia dengan komposisi setengah badan dan gesture yang beragam terpasang pada bagian depan rumah seolah menyambut kedatangan tamu yang hendak masuk. Setiap rumah memiliki bentuk khas pada ujung atapnya, sangat semiotik. Beberapa makam yang tersusun dari lempengan batu alam memberikan nuansa eksotik pada tempat ini.

Destinasi wisata budaya ini terletak di Desa Rendu Tutubhada, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, NTT. Kampung Tutubhada berjarak kurang lebih sekisar 12 kilometer dari pusat kota Mbay. Untuk sampai kesini, dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan motor atau mobil. Kondisi jalannya berkelok dengan topografi pegunungan. Pemandangan indah akan tersuguhkan pada sepanjang perjalanan.

Dilingkungi hamparan rerumputan hijau yang membentang, Kampung Adat Tutubhada berdiri diatas lahan seluas kurang lebih 200 x 25 meter persegi dengan penataan kampung berbentuk persegi panjang. Bangunan rumah berjejer dipinggir dan menghadap ke tengah. Kampung ini membentang dari utara ke selatan dengan rumah utama berdiri di sisi utara. Didepannya terdapat makam leluhur yakni Jogo Sela dan Amerae. Pengelolaannya sendiri dilakukan langsung oleh masyarakat adat setempat.

Tak hanya itu, destinasi budaya ino hampir sebagian besar rumah adat dibangun menggunakan bahan kayu dan bambu, kemudian atapnya terbuat dari bahan ilalang kering. Rumah Adat Soa Waja Ji Vao secara struktur terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah sebagai kolong rumah tempat menyimpan batu alam, bagian tengah yang difungsikan sebagai ruang tidur, pertemuan, dan dapur yang mana area dapur juga difungsikan untuk menyimpan benda pusaka. Sedangkan Bagian atas merupakan atap bangunan.

Benda- benda pusaka tradisional rupanya masih tersimpan dengan baik di sini, seperti meriam, senapan, dan tombak. Salah satu yang menarik adalah Kamukeo, sebuah alat berbentuk tongkat yang digunakan untuk memanggil dan menghalau hujan. Selain benda bersejarah tersebut, kampung ini juga mewariskan atraksi budaya yang sangat unik yaitu Tinju Adat atau biasa disebut 'Etu'. Kegiatan ini masih rutin dilakukan sampai saat ini dan biasanya diselenggarakan setahun sekali yakni pada bulan Juli. Tinju Adat Etu menjadi atraksi wisata tersendiri bagi wisatawan yang ingin melihat keunikan Kampung Tutubhada.


Halaman