Top Pick
Gandeng STP Bandung, Asparnas NTT di Labuan Bajo Buka Pusat Pendidikan di Local Collection Hotel Permohonan Misi Tidak diterima MK, Edi - Weng Siap Lantik Mama Rosa Delima : Program Paslon Edi-Weng Sangat Merakyat dan Yakin Bawa Perubahan untuk Warga Mabar Di NTT Guru Terpaksa Mengajar Door to Door di Tengah Virus-19 Terkait Tumpukan Sampah di Pasar Wae Nakeng, Berikut Penjelasan Camat Lembor Sebar Hoax Terkait Covid, Ibu Rumah Tangga Di Labuan Bajo ini Harus Berurusan Dengan Kepolisian

Haji Ramang Ishaka Beri Kesaksian Masalah Korupsi Aset Pemda Mabar di Pengadilan Tipikor Kupang

Persidangan di Pengadilan Tipikor Kupang saat Haji Ramang Ishaka  memberi kesaksian. Foto: ist

 

POSTNTT.COM | KUPANG - Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi Haji Ramang Ishaka (ahli waris funsionaris adat/Ulayat Nggorang) untuk menyampaikan kesaksian dalam sidang Tindak Pidana Korupsi Pengalihan aset tanah Pemda Mabar 1,3 triliun seluas kurang lebih 30 Hektare di Kerangan/Toro Lemma Batu Kallo, Kelurahan Labuan Bajo kembali di gelar di Pengadilan Tipikor Kupang pada, Rabu (10/3/2021).

Sidang tersebut dihadiri tiga orang JPU, yaitu Herry Franklin, SH. MH, Hendrik Tiip, SH. Emirensiana Jehamat, SH.

Sementara proses sidang dipimpin oleh hakim Wari Juniarti SH, MH (Ketua Majelis). Ari Prabowo, SH, MH (Hakim anggota) dan Ibnu Kholik (Hakim anggota).

Dalam sidang tersebut, JPU Hery Franklin menanyakan kepada saksi Haji Ramang terkait kepemilikan bangunan Vila di dalam lokasi 30 HA dan dua conteiner.

"Apakah Saudara saksi mengetahui bangunan Vila dilokasi tersebut milik Goris Mere," tanya JPU Hery.

Ramang selaku saksi menyatakan ketidaktahuannya tentang pemilik vila tersebut.

"Saya tidak tahu," jawab Ramang.

Tetapi Jaksa masih mencari kebenaran dengan bertanya sekali lagi.

"Masa tidak tahu?," tanya Jaksa lagi.

Ramang menjawab dengan hal yang sama. Karena menurutnya, dia memang mendengar informasi bahwa Vila milik Goris Mere.

"Ya, saya tidak tahu. Tapi, menurut informasi yang saya dengar dan bukan rahasia umum, masyarakat Labuan Bajo tahu bahwa Vila tersebut milik Goris Mere," jawab Ramang lagi.

Saat Jaksa menanyakan terkait kepemilikan dua Conteiner, Ramang menjawab bahwa dia tidak mengetahui pemilik dua Conteiner tersebut.

"Kalau Conteiner dua, saudara saksi tahu?" tanya JPU.

"Iya saya tahu ada dua Conteiner, tapi saya tidak tahu milik siapa," jawab Ramang.

Merasa belum puas dengan jawaban saksi akhirnya Jaksa kembali bertanya tentang hal yang sama. Namun tetap saja saksi menjawab tidak tahu.

"Masa tidak tahu,disanakan bertabur bintang?," tanya Jaksa Hery.

"Bertabur bintang apa maksudnya?" jawab Ramang seperti kebingungan.

"Iya, bintang-bintang," tegas jaksa Hery.

Lalu rekan JPU lainnya Hendrik Tip melanjutkan pertanyaan kepada saksi Haji Ramang Ishaka terkait Joni Asadoma yang memiliki lahan 30 Ha. Saksi Ramang tidak tahu menahu terkait hal tersebut.

"Apakah Joni Asadoma memiliki lahan di area 30 Ha?" tanya Jaksa.

"Saya tidak tahu," jawab Saksi Ramang.

Setelah mendengar jawaban saksi, Jaksa Penuntut Umum akhirnya membacakan agenda harian dari Alm. Adam Djudje. Dalam catatan tersebut tertera terima tanda jadi sebesar 50 juta rupiah. Namun sekali lagi saksi Ramang mengatakan tidak mengetahui perihal uang tersebut.

"Baik, saya bacakan catatan dari buku agenda harian almarhum Adam Djudje," tutur JPU.

"Terima tanda jadi dari Joni Asadoma 50 juta rupiah, Apakah saudara saksi mengetahui soal ini?" lanjut Jaksa.

"Saya tidak tahu," jawab saksi Ramang.

Saat itu, JPU membacakan buku catatan agenda harian berwarna hitam berukuran kecil dari almarhum Adam Djudje.

Hari ini dilakukan sidang untuk 8 orang terdakwa, yaitu Ambrosius Syukur, Achyar Abdul Rahman, Abdulah Nur, Marten Ndeo, Afrisal alias Unyil, Caitano Soares, Theresia Koro Dimu dan Veronika Syukur.

Kedelapan terdakwa mengikuti persidangan secara virtual dari rumah tahanan dan didampingi masing-masing penasehat hukum yang hadir langsung diruangan sidang Pengadilan Tipikor.

 

(Edison Risal)

 


Halaman