Top Pick
100 KK Warga Nanganae Labuan Bajo Dapat Paket Sembako dari NasDem Kembali Ke Labuan Bajo, Edi - Weng Bawa Serta SK Golkar Mahasiswa Nusa Lontar Kupang Bagikan Ratusan Masker Gratis Unik, Desa di NTT ini Bagi BLT di Lokasi Wisata Breaking News : Dua Warga Mabar Positif Virus Corona Cegah Mata Rantai Covid 19, Camat Wae Ri'i Minta Kerja Sama Para Kepala Desa

MENANTI KEBIJAKSANAAN GUBERNUR NTT "Simpati Kepada Perantau NTT yang Tertahan di Sape-NTB"

Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis buku "Selamat Datang Di Manggarai Barat", nomor HP 085797644300.

NEGARA kita Indonesia bahkan berbagai negara di seluruh dunia sedang dilanda oleh sebuah bencana non alam yaitu Covid-19. Ini merupakan salah satu virus berbahaya dan telah menelan korban begitu banyak. Termasuk nyawa melayang.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah di segala levelnya telah meneguhkan komitmennya untuk mencegah virus ini secara serius dan terpadu. Elemen masyarakat pun terlihat sungguh-sungguh untuk melakukan hal serupa. Hal ini tentu satu kondisi yang sangat kita harapkan.

NTT merupakan salah satu propinsi yang sebagian warganya berada di rantauan, yaitu di berbagai pulau dan kota di luar NTT. Dari pelajar, mahasiswa, pengajar, pekerja, karyawan dan sebagainya.

Dampak Covid-19 secara ekonomi tentu bersentuhan langsung dengan mereka. Apalah lagi pelajar dan mahasiswa yang belum memiliki sumber keuangan secara mandiri, tentu secara otomatis terkena dampak.

Semua solusi sudah dicoba, namun belum menemukan solusi yang benar-benar solutif. Atas dasar itu sebagian mereka memilih berencana dan malah sedang pulang kampung dengan sisa uang seadanya. Itu pun dengan makan-minum yang sudah tak normal lagi.

Kondisi di tanah rantauan semacam itu membuat mereka seperti tak terurus lagi. Akhirnya benar-benar terdesak untuk pulang kampung, walau dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Jumlahnya tentu tak sedikit, tapi ada banyak.

Sejak Jumat dua hari lalu (17/4/2020) bahkan beberapa hari sebelumnya sebagian mereka tertahan di Pelabuhan Sape, Bima-NTB. Hal ini disebabkan oleh kebijakan Pemerintah Propinsi NTT (Dinas Perhubungan NTT) yang melarang perjalanan jasa transportasi laut ke dan menuju NTT, termasuk lewat jalur Labuan Bajo.

Berdasarkan Surat Kadishub Propinsi NTT No. 550.552.3/IV/2020 tanggal 11 April 2020 diumumkan bahwa terhitung tanggal 17 April hingga 30 Mei 2020 Kapal Penumpang PT. PELNI (KM. Tilongkabila, KM. Binaiya, M. Leuser, dan KM. Wilis) tidak diizinkan mengangkut penumpang sehingga kapal tidak lagi singgah di Labuan Bajo.

Kondisi ini membuat para perantau yang hendak pulang kampung, terutama ke Pulau Flores (Manggarai Barat, Manggarai dan sebagainya) tertahan di Sape, tepatnya dekat Pelabuhan Sape. Satu pelabuhan penyeberangan laut yang selama ini menghubungkan NTB dan NTT melalui jalur barat NTT.

Dua hari terkahir kondisi mereka sudah mulai mencemaskan dan mengkhawatirkan. Selain uang sudah habis, warga sekitar juga sudah mulai menyampaikan keluhan dan peringatan agar mereka tak berlama-lama di Sape.

Bahkan beberapa hari lalu sempat ada insiden yang tak perlu antar mereka dan aparat keamanan setempat. Berita baiknya, insiden tersebut tak berlanjut, karena para perantau yang tertahan tersebut masih memiliki etika dan bersikap santun.

Menurut cerita dan informasi dari beberapa perantau yang sempat saya hubungi, warga Sape di sekitaran Pelabuhan Sape sudah mulai resah dengan keberadaan para perantau. Bahkan, sekali lagi, meminta agar warga NTT yang tertahan tersebut segera meninggalkan Sape.

Kondisinya semakin tak menentu, sekali lagi, karena kondisi keuangan mereka sudah menipis bahkan sebagian besar sudah tak punya uang lagi. Jangan kan untuk nyeberang, untuk makan-minum pun sangat susah.

Atas dasar itu, agar tak terjadi hal-hal yang tak perlu bahkan pelanggaran atas hak warga negara, sebagai warga biasa, yang juga lama di perantauan saya meminta kepada pihak-pihak terkait beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, mendesak Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur NTT serta Dinas Perhubungan NTT untuk memberikan dispensasi kepada para perantau yang tertahan di Sape agar bisa menyebarang melalui kapal yang disediakan secara khusus oleh pemerintah propinsi NTT dan atau pemerintah kabupaten Manggarai Barat.

Kedua, memohon kesediaan Bapak Pangdam Udayana dan Kapolda NTT untuk berkenan menyedikan pesawat pengangkut khusus yang bisa digunakan untuk mengangkut para perantau yang tertahan di Sape sampai ke Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo.

Ketiga, memohon kepada seluruh anggota DPR RI Dapil NTT, anggota DPRD NTT dan anggota DPRD Mabar serta kabupaten/kota lainnya di NTT untuk memberikan pernyataan sikap resmi yang berisi mendesak Pemerintah Propinsi NTT agar memberikan dispensasi kepada para perantau yang tertahan di Sape untuk segera diperbolehkan menyeberang ke Labuan Bajo.

Keempat, secara khusus saya sampaikan permohonan kepada Gubernur NTB, Kapolda NTB, Bupati Bima, Polres Bima dan Tokoh Agama juga Tokoh Masyarakat serta Warga Masyarakat Sape agar berkenan memaklumi kondisi para perantau asal NTT yang tertahan di Sape. Bila berkenan, saya mohon bantuan materil, moral dan keamanan mereka.

Kelima, meminta kalangan media massa atau para wartawan atau jurnalis agar berkenan meliput atau memberitakan kondisi terkini warga NTT yang tertahan di Sape, termasuk mempublikasikan tulisan sederhana ini. Tentu dengan tujuan yang lebih solutif dan konstruktif.

Sekadar penguatan, tulisan ini secara khusus diperuntukan kepada Bapak Gubernur NTT, agar berkenan berpikir lebih solutif dan berkenan kebijaksanaannya dalam menyelesaikan persoalan para perantau yang tertahan di Sape, NTB ini secara jernih dan tentu saja solutif.

Demikian permohonan sederhana ini saya sampaikan, semoga ada hati dan telinga para pengambil kebijakan, seperti yang saya sebutkan di atas, yang tersentuh dan menindaklanjutinya secara ril atau nyata.

Atas kerjasama semua pihak, terutama kebijaksanaan Bapak Gubernur NTT yang sedang dinanti, saya sampaikan banyak terima kasih. Semoga kita semua tersentuh dan menghadirkan solusi terbaik! (*)

Jakarta, 19 April 2020