Top Pick
Puisi Yakobus A. Balimula, Komunitas Kopiha Sadis! Selain Dituding Pembawa Virus, Petugas Medis Di Puskesmas Lembor-Mabar Ini Juga Mengaku Dipukuli Bantu Pendidikan di Indonesia, Telkomsel Bersama Kementrian Agama RI, Hadirkan Program Kuota Terjangkau Lakalantas di Kisol Merenggut Nyawa Hati-Hati CLBK Mengintai Kembali Zona Merah SMA Islam Muthmainah Ende Memberlakukan BDR

Perkuat Pencegahan Covid-19 Pada Sektor Pariwisata, BOPLBF Alokasikan Anggaran 4 Miliar

POSTNTT.COM | Labuan Bajo - Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) mengalokasikan anggaran awal sebesar 4 miliar dan akan bertambah untuk penanganan dampak Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) terhadap sektor kepariwisataan di 11 Kabupaten di Flores, Lembata, Alor dan Bima yang merupakan zona koordinatif BOPLBF.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur utama BOPLBF, Shana Fatina dalam press reless yang diterima oleh POSTNTT.COM pada Senin (21/04).

Lebih jauh, Direktur Utama BOPLBF, Shana Fatina menjelaskan, sejauh ini BOPLBF telah menyiapkan beberapa langkah guna mengantisipasi dampak yang ditimbulkan Covid-19 terhadap sektor kepariwisataan.

Menurut Shana, pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai sektor yang sangat mengandalkan jasa nampaknya menjadi salah satu sektor yang paling merasakan imbas dari pandemi global Covid-19 saat ini.

Terutama dengan kondisi hampir semua negara di dunia saat ini melakukan karantina domestik di negaranya masing-masing demi menghentikan penyebaran Virus Covid-19 yang telah menginfeksi lebih dari 2,3 juta orang di seluruh dunia tersebut.

“Kita tidak bisa memungkiri bahwa dengan terhentinya kunjungan wisatawan baik mancanegara maupun domestik tentunya berdampak pula pada kondisi perekonomian dunia pariwisata kita. Hal ini pun berdampak pula pada sejumlah aktivitas, khususnya di bidang jasa dan juga pelayanan kepariwisataan terhenti,” ungkap Shana.

Lebih lanjut, Shana menegaskan, terhentinya aktivitas kepariwisataan sudah pasti berimbas pada masalah ketenagakerjaan. BOPLBF sendiri sejak pertengahan Maret mulai memantau perkembangan aktivitas pasar pariwisata di Labuan Bajo dan beberapa Kabupaten di zona koordinatifnya seperti jasa penginapan, industri kuliner UKM, kapal pesiar, serta penyelenggaraan beberapa festival yang sudah dijadwalkan, seiring dengan diumumkannya Status Bencana Nasional Covid-19 pada tanggal 14 Maret 2020 oleh Pemerintah Pusat dan imbauan tidak bepergian oleh World Health Organization (WHO).

Dampak Covid-19 terhadap sektor jasa pariwisata, lanjut Shana Fatinah, mulai terlihat dengan adanya kebijakan hotel-hotel yang mulai merumahkan karyawan-karyawannya, begitupun penyelenggaraan beberapa festival besar yang juga dibatalkan.

Melihat makin meluasnya dampak Covid-19 terhadap industri jasa pariwisata, Pemerintah Kabupaten, termasuk Pemda Kab. Manggarai Barat segera merespon dampak Covid-19 dengan membebaskan pajak bagi para pelaku usaha jasa terhitung sejak tanggal 26 Maret 2020. Begitu pula dengan Pemerintah Kabupaten Sikka dengan himbauan Aksi Solidaritas Sosial dan Ekonomi.

“Di satu sisi, hal Ini merupakan saat yang sulit bagi sektor industri dan juga tenaga kerja di sektor Parekraf. Namun, di sisi lain, kita pun dituntut untuk mencari jalan keluarnya secara bersama-sama sebab kondisi ini sudah pasti akan menimbulkan persoalan ekonomi dan sosial di kemudian hari. Apalagi kita masih belum bisa memastikan kapan pandemi covid ini berakhir”, ujar Shana.

Melalui alokasi anggaran tersebut, BOPLBF menyiapkan 3 tahapan penanganan Covid-19.

Pertama, Tahap Tanggap Darurat seperti dukungan kesiapan perlengkapan medis dan pencegahan Covid-19, bantuan kemanusiaan untuk pekerja sektor parekraf terdampak, pengawalan relaksasi regulasi untuk pelaku industri parekraf, dan program pemberdayaan ‘padat karya’ sektor parekraf seperti pelatihan SDM online, pelatihan pembuatan masker, penguatan rantai pasok produk ekraf dan pangan, konsolidasi tata kelola destinasi, dan lainnya. BOPLBF juga secara intensif melakukan pendataan di lapangan bagi para pelaku usaha dan tenaga kerja pariwisata dan ekonomi kreatif, serta desa wisata terdampak.

BOPLBF sendiri saat ini turut memperkuat Gugus Tugas Percepatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Manggarai Barat di Tim Perencanaan Data, Pakar, dan Analisis, Tim Kehumasan, dan Tim Pusat Pengendalian dan Operasi.

Salah satunya yang sudah berjalan hampir satu bulan belakangan ini adalah sinergi BOPLBF bersama Pemda dan Komunitas lokal Manggarai Barat membangun Media Center Covid-19 Mabar, yang sempat berkantor di Kantor BOPLBF, sebagai pusat data dan informasi yang secara khusus memperkuat kesadaran masyarakat menghadapi Covid-19.

Kedua, Tahap Pemulihan yang berfokus pada dukungan aktivitas dan ekonomi kepada Industri, Komunitas, dan Masyarakat di bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang diharapkan bisa secepatnya terlaksana hingga akhir tahun 2020. Kegiatan meliputi penguatan SDM dan produk wisata maupun ekraf sehingga semakin siap untuk mendukung Destinasi Super Prioritas pasca pandemi berakhir.

Ketiga, Tahap Normalisasi yang diharapkan bisa berlangsung tahun depan (2021).


Sementara BOPLBF sendiri, sejak awal dilibatkan dalam Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 dan turut menginisiasi terbentuknya Media Center Covid-19 Kabupaten Manggarai Barat. BOPLBF sejak awal terlibat sebagai konseptor digital platform Media Center Covid-19 Mabar dan sekaligus melaksanakan tugas harian menyiapkan data dan informasi bersama rekan-rekan Pemkab Mabar dan Komunitas Relawan yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Media Center Covid-19 Mabar.

“Kami tahu ini situasi yang sulit. Namun kalau kita bersama-sama menghadapinya, kita pasti bisa melalui semua dengan baik. Kami butuh semua pihak saling menjaga dan bergandengan tangan“, tegas Shana Fatinah.

Informasi yang dihimpun POSTNTT.COM, dalam waktu dekat BOPLBF sendiri mulai melaksanakan kegiatan-kegiatan yang akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi sebelas Kabupaten di wilayah koordinatif BOPLBF.

 

 

Penulis : Vansi Helmut

Baca Juga