Top Pick
Pelayanan Disdukcapil Matim Dikeluhkan Warga Tiga Desa Di Kecamatan Borong, Resmikan Posko Penanganan Covid-19 Kurangnya Komunikasi dan Koordinasi Dinilai Sebagai Pemicu Konflik (Catatan Seputar Polemik Lokasi Check Point di Wilayah Perbatasan Manggarai-Manggarai Barat) Terkait Siapa Dalang di Balik Pemecatan Pejabat Tinggi Pertamina, Berikut Penjelasannya Bahas Tilang Elektronik, Kapolri Sambangi Mahkamah Agung Learning On The Road System Menjadi Pilihan Tenaga Pendidik Di SMP Negri 11 Kakor, Manggarai

Batching Plant Milik PT Gunung Sari Abaikan Kenyamanan Warga Sekitar

Tempat usaha campur beton (Batching Plant) milik PT Gunung Sari yang terdapat di tengah pemukiman warga, yaitu di RT 11/RW 006 Dusun Kaper, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Foto: ist

 


POSTNTT.COM | LABUAN BAJO -Pengoperasian Batching Plant milik Gunung Sari mengabaikan kenyamanan warga sekitar. Hal itu dinilai karena PT tersebut menciptakan kebisingan dan debu.

Sejumlah warga mengeluh merasa kurang nyaman akibat debu dan juga suara bising yang keluar dari tempat produksi itu. pengoperasian Batching Plant ini dianggap mengancam kesehatan warga sekitar. Selain itu, warga lain juga mempertanyakan izin usaha atau izin pengoperasian mesin batching plant. Mereka mengaku tidak begitu mengetahui perizinannya, sebab mereka tidak pernah mendapat undangan oleh pemilik usaha untuk melakukan proses perizinan usaha di lingkungan mereka.

Seorang warga RT 12 RW 006 yang tidak mau menyebutkan namanya mengatakan merasa terganggu akibat suara bising dan debu dari tempat pengoperasian mesin batching plant. Selain itu, pengoperasian mesin usaha ini seperti tidak memperhatikan waktu. Bahkan mesin masih beroperasi hingga tengah malam sehingga waktu tidur bagi warga dirasa terganggu. Apalagi anak-anak yang sampai menangis di tengah malam. Warga akhirnya memberi teguran dengan menghubungi langsung pemilik usaha. Semenjak itu, tidak ada lagi kerja lembur.

“Kita merasa dirugikan dengan adanya kegiatan produksi campuran beton ini. Efeknya dari produksi ini itu polusi udara. Debunya beterbangan kemana-mana. Awal-awal kami maklumi, tapi ke belakangnya kita tidak nyaman juga,” ujarnya, Selasa (27/4/2021) lalu.

“Dulu awalnya, beberapa warga yang ada di sini melakukan aksi penolakan pertama kali. Awalnya malam itu mesin beroperasi mulai dari sore sampai malam hari, hingga jam 12 malam pun mesin juga belum berhenti. Pemiliknya dihubungi untuk menghentikan pengoperasian. Kami juga butuh istirahat. Kondisi mesin yang berisik sangat mengganggu warga sekitar. Anak – anak kita menangis tengah malam karena tidak nyaman. Akhirnya diberhentikan dan dari situ sudah tidak ada lembur lagi,” lanjutnya.


Halaman