Top Pick
Siswa SMA di Ende Rindu KBM di Sekolah Terapkan Akomodasi dengan Prinsip Berkelanjutan, Sejumlah Hotel di Labuan Bajo Menerima Lingko Award Bantu Bencana Alam di Lembata, Gabungan Elemen masyarakat Ende Lakukan Aksi Kemanusiaan Kementrian Kominfo Gelar Rakor di Labuan Bajo Bahas Percepatan Pembangunan Infrastrukur Telekomunikasi Kemenparekraf Gelar Sosialisasi CHSE Desa Wisata Destinasi Super Prioritas Labuan Bajo Pemda Mabar Akan Rumahkan Pegawai Yang Malas

Mahasiswa NTT Di Kalimantan Timur Keluhkan Tidak Dapat Bantuan

POSTNTT.COM | Samarinda - Pembatasan sosial bersekala besar (PSBB) yang dilakukan pemerintah Samarinda, Kalimantan Timur (KalTim) berakibat fatal bagi mahasiswa dari luar daerah yang mengeyem pendidikan disana. Seperti yang dirasakan Wanto (28), mahasiswa asal Manggarai Timur (Matim), desa Rengkam, Kecamatan Pocoranaka Timur. Menurutnya, para mahasiswa yang dari luar daerah Kaltim disana seolah-olah dianak tirikan di tengah wabah virus Corona ini.

"Beberapa hari yang lalu gubernur Kalimantan Timur memberikan bantuan kepada mahasiswa dan warganya di Samarinda. padahal kami mahasiswa perantau juga telah terdaftar di RT lingkungan dan telah melaporkan diri kepada pemerintah agar mendapat bantuan sembako tetapi kamo tidak diakomodir. Mereka hanya prioritaskan wsrganya sendiri. ini semacam pilih kasih dan artinya kami seolah dianak tirikan", Ungkap Wanto, melalui sambungan WhatsApp kepada POSTNTT.COM, Sabtu (35/04).

Tambah Wanto, Kita tahu bencana Corona ini adalah bencana kemanusiaan, karena itu dalam penanganannya pun harus mengedepankan prinsip humanisme dengan tanpa membeda-bedakan letak wilayah keberadaan.

Sesungguhnya kami ingin pulang kampung, tetapi kami menghargai anjuran pemerintah agar tidak pulang. Namun, disaat bersamaan, kami dianak tirikan disini. Tiada bantuan yang terkirim ke kami, mahasiswa luar daerah Kalimantan Timur. 

Iapun berharap kepada pemerintah Manggarai Timur agar jagan menutup mata degan mahasiswa maupun warga pekerja di perantauan. karena dimana pun kami berada, pasti kami tetap mengingat daerah kami berasal, " Ada ungkapan neka hemong kuni agu kalo (jangan lupa kampung halaman atau tanah kelahiran), ungkapan tersebut tentu harus ada timbal balik di masa sulit seperti ini kepada kami yang diperantauan", jelasnya.

Tambahnya agar pemda Manggarai Timur mengikuti contoh pemerintah daerah Kalimantan Timur yang turut membantu mahasiswa maupun warga terkait bantuan sembako.

Sementara itu setda Matim Ir. Boni Hasudungan Siregar melalui pesan WhatsApp kepada media mengatakan untuk saat ini pemda Matim belum menyiapkan dana bantuan sembako atau sejenisnya bagi perantau. Karena sesuai regulasi terkait bantuan sosial yang bersumber dari APBD, salah satu kriteria persyaratan penerima bantuan berdomisili dalam wilayah administratif pemerintahan daerah berkenaan.

"Jika memenuhi kriteria kemungkinan mereka bisa mendapat bantuan dari pemda setempat. Tetapi jika belum terdaftar baiknya mereka mendaftarkan diri pada pemerintah daerah dimana mereka tinggal saat ini", ungkap Boni, Senin (27/04).

 

 

 

Penulis : Will Susu


Halaman