Top Pick
'Watu Niki' Gua Berlantai Dua di Flores Paket Edi-Weng Gelar Acara 'Wuat Wai'i' Menuju Pilkada Mabar Mahasiswa Nusa Lontar Kupang Bagikan Ratusan Masker Gratis Kades Papagarang Bantah Keras Tudingan Dirinya Korupsi Dana Desa Breaking News : Dua Warga Mabar Positif Virus Corona Solusi Bisnis Berbasis IoT, Telkomsel Hadirkan Asset Performance Management

Nestapa Pedagang Sikka di Tengah Pandemi Covid-19  

POSTNTT.COM | Mumere – Pandemi COVID-19 nyatanya memang memberikan dampak yang cukup besar dalam segala sendi kehidupan masyarakat. Geliat perekenomian masyarakat pun tak luput dari pengaruh pandemi covid-19 ini.

Pada Selasa (05/05), POSTNTT.COM melakukan penelusuran terkait bias pandemi covid-19 bagi beberapa pedagang di Pasar Geliting, Desa Geliting, Kec. Kewapante, Kab. Sikka. Diakui banyak pedagang, mereka mengalami kerugian karena kurangnya pembeli dan juga kondisi pasar yang cenderung sepi.

Hal ini diakui oleh Andus (48 Thn), seorang pedagang sembako di pasar Geliting. Pria asal Sulawesi ini mengaku bahwa pandemi covid-19 ini sangat berpengaruh bagi pendapatannya yang sehari-harinya hanya mengharapkan hasil penjualan sembako yang ia jajakan di kios kecilnya.

“Bagi saya, pengaruhnya cukup besar. Selain karena adanya aturan terkait pemberlakuan jam malam yang mengharuskan kita cepat tutup kios. Hal lainnya juga terjadi karena pembelinya berkurang dan ndak kayak biasa karena jarang orang datang sehingga tampak sepi. Otomatis pendapatan saya jadi berkurang”, ungkap Andus.

Meskipun demikian, masih kata Andus, walaupun pendapatannya mengalami penurunan namun dirinya tidak menaikkan harga jual barang dagangannya.

Andus pun hanya bisa berharap agar situasi ini cepat berlalu sehingga dirinya dapat berjualan dan memperoleh keuntungan seperti sebelum pandemi covid-19 melanda kehidupan manusia.

“Ya, mudah-mudahan pandemi covid-19 ini cepat berlalu. Saya cuma patuhi peraturan dan himbauan dari pemerintah. Kalau bisa pihak pemerintah juga bisa menyalurkan bantuan karena sejauh ini saya juga belum dapat bantuan,” tuturnya.

Senada dengan itu, Emilia Uligunda (40 Thn), penjual sayuran yang mengaku setiap hari berjualan di pasar Geliting juga menyampaikan keluhan yang sama. Menurutnya, musibah corona telah membuat pendapatannya berkurang dan malahan rugi.

“Pembelinya berkurang sekali. Modal saja menurun karena saya tidak dapat untung. Kalau tidak ada musibah corona begini untungnya lumayan besar, misalkan pengeluarannya lima ratus ribu, maka bisa untung delapan ratus ribu hingga satu juta. Tapi kalau selama musibah begini, sering tidak ada untung sama sekali dan malahan rugi. Banyak sayur yang saya buang karena tidak laku. Namun, hal ini bisa sedikit ditutupi karena saya jual di luar (komplek pasar), jual di ujung begini. Kalau saya jual di dalam (komplek pasar) tidak pernah dapat uang”, katanya.

Ketika dimintai komentarnya terkait himbauan pemerintah untuk beraktifitas di rumah, wanita yang akrab disapa Mama Mia ini mengatakan, tiga hari saya tinggal di rumah, tidak dapat beli beras. Karena itu, saya terpaksa keluar untuk jualan. Apalagi penghasilan saya setiap hari hanya ini (jualan sayur). Selama ini, saya tidak bisa dapat uang, modal tidak naik. Musibah begini disuruh tinggal di rumah, ya, tidak bisa makan. Pengaruh setiap hari kan kami harus jualan di sini. Kalau tidak jual, kami tidak bisa makan”, ucap Mama Mia.

Lebih jauh, Mama Mia pun menyampaikan harapannya agar pihak pemerintah bisa menyalurkan bantuan baginya di tengah pandemi covid-19 yang sedang mewabah ini.

“Saya berharap agar pihak Pemerintah bisa membantu kami, baik itu berupa beras ataupun juga uang Kalau kita diminta tiap hari tinggal di rumah, kita mau makan apa sementara stok beras menipis dan bahkan tidak ada,” pungkasnya.

 

Penulis : Ius Aga

Baca Juga