Top Pick
Tim SAR Gabungan Cari Nelayan Yang Terjatuh di Perairan Raba Ende PKB Ende Bagi 450 Paket Sembako dan 5.000 Masker ke Warga Kapolda NTT : POLRI Harus Garda Terdepan Cegah Penyebaran Covid Malang, Nasib Tiga Kakak Beradik di Ende Tewas Disumur Sah, Ketua DPD II Golkar Mabar Terpilih SISTEMATIKA PEMBANGUNAN DESA

Puisi : Sebuah Malapetaka

Djafar Doel AH merupakan pengarang merdeka. Penulis buku "Melawan Badai Zaman". Sekarang sedang berkecimpung di dunia literasi.

/1/
Dari balik gedung megah
aku meneropong orang-orang
merampok uang rakyat
S E S U K A hati.

Maling teriang maling seolah
sudah jadi hal lumrah yang terjadi
di negeri Indodesah ini.

Bidikan kamera sengaja dirabunkan
lantaran petak umpet terus
dilancarkan setiap
W A K T U.

Maling-maling berdasi dari
tingkatan pusat sampai ke desa
terus melancarkan agitasi
dan kepentingan
liciknya.

Sebuah malahpetaka
terjadi di jantung bumi yang
mulai terserang ketakutan
dan kebalnya budaya
malu dan gengsi.

/2/
Jumat dua ribu dua puluh
kau muntahkan amarah
serta dendam.

Yang pernah terjadi kembali
dibentangkan di atas sajadah
kusam yang tak lagi
dirawat-dijaga.

Sebuah malapetaka
masih saja tertulis kepada
generasi untuk tak mengekor
pada para pendahulunya
yang suka merampok.

/3/
Kau agungkan cinta
dan pembangunan yang begitu
menyeru semangat kita
orang semua.

Tapi, di belakang layar
sakumu terus terisi tanpa permisi
hingga rumah dan segala kendaraan
terparkir di halaman tua
tanah sejarah.

Kesal dan dendam
menemui malam yang kelam.

Aku kau kutuk lantaran
menguak segala kebobrokan,
Sedangkan kalian merampok
uang rakyat sengaja
bersembunyi.

/3/
Wajah senyummu
hanyalah keterpaksaan
yang mendatangkan
untaian R I N D U.

Aku tak setolol sesuai
arah gerak pikiranmu hari-hari,
Aku tak sekerdil arah langkahmu
yang selalu bertopeng dusta.

Sebuah malapetaka
pernah terjadi di tanah darah,
Koruptor di tingkatan desa
tak pernah dipenjara.

Di kota-kota anak-anak terlantar
mengadu nasib berjudi
dengan waktu.

Di ruang mewah politikus
bermain akrobat dan janji
yang begitu rakus.

/4/
Kusampaikan salam padamu
yang telah menjebak diri jadi
tumbal debu W A K T U.

Semua masih kucatat
dengan ketat tepat
di hari Jumat.

Malapetaka bulan Juli
hanyalah sebuah gejolak,
Aku dan anak muda kepala batu
akan terus melancarkan segala
kutukan dan perlawanan.

/5/
Kabar terakhir tersiar,
Kau dan kolegamu menjadi
orang kaya baru di bumi.

Sedangkan pembangunan
jarang digubris sesuai
kesepakatan.

Kau ini bagaimana?
Orang-orang jujur sengaja
dihentikan jalan langkahnya.

Sebuah malahpetaka
terus dikumpul dalam catatan
berkala Tuan-Puanku
yang terhormat.

Aku tak bisa kau patahkan
dengan segala tawaran dan sejumlah
uang serta janji akan jabatan.

Kami akan terus bergerak
maju dengan stategi taktik
yang terus menohok
relung dada.

/6/
Di baranda maya
tulisan-tulisan hoax
masih saja tersebar.

Elite politik doyan mencari
sensasi saat rakyat sedang dilacuri
dengan pelbagai T E K A N A N.

Sebuah malapetaka
butuh solusi dan tindakan nyata,
Bukan hanya janji manis lalu mencuci
tangan lantaran sering kali
berbuat salah.

Kau ini bagaimana?
Menyebar fitnah tanpa jenuh,
malah menuduh kami sebagai
generasi perusak moral
anak zaman yang lain.

/7/
Sebuah malapetaka
baru saja kunaikan dalam karya,
Ini hanyalah permulaan
Tuan-Puanku.

Kau dan kolegamu akan terus
kami buru hingga tanpa ada batas
waktu atau pun kesepakatan
licik yang serba rakus.

/8/
Ini hanyalah peringatan,
Api perlawanan dan pemberontakan
sementara dipupuk-diracik.

Tidurmu tak akan nyenyak,
Segala kutukan dan dosa sosial
akan mulus terkuak.

Sebuah malapetaka
adalah rentetan dari setiap
peristiwa yang terjadi
di bumi kaya raya.

/9/
Cintailah keadilan dan kebenaran,
maka kau dan kolegamu kami anggap
sebagai kawan atau pun koalisi.

Dekatkan dirimu dengan
berpuluh-puluh anak manusia
yang sedang merengek
minta bantuan.

Jangan kalian makan
jerih payah mereka sesuka hati!

Sebuah malapetaka
masih saja dirajut dengan segala
keberanian dan keteguhan hati,
Kami selalu hadir dan terus
saja bergentayangan.

/10/
Cinta dan rasaku untukmu
bukanlah sebuah nafsu
dunia belaka, Sayangku.

Namun ia tak bisa diukur,
Tak bisa ditawar atas nama
kuasa dan janji-janji.

Malapetaka hari Jumat
tahun genap tanggal keramat
baru mulai dirawat-dirajut.