Top Pick
Arisan Online, Ibu Rumah Tangga di Manggarai Tertipu Puluhan Juta Rupiah PROKOPIM Matim Luncurkan Agenda "Bertemu Media" DPD Golkar Manggarai Barat Siap Kerahkan Kader Menangkan Edi - Weng Tim Keuskupan Ruteng dan Bupati Matim, Diskusi Soal Tambang Prahara Papagarang, Kades Dan Bendahara Saling Tuduh Korupsi Terkait Bantuan Langsung Tunai, Kantor Pos Ende Komitmen Cairkan Sebelum Batas Ahkir

Menahan Haru Wisuda STIPAR Ende, Tanpa Kehadiran Orang Tua

(Salah satu Wisudawati Terbaik Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa ( STIPAR ) Ende, Valentina J. O. Koke.Foto : Ronald Degu) 

 

POSTNTT.COMEnde - Sejak pagi, Puluhan mahasiswa terlihat memadati kampus Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa ( STIPAR )  Ende dengan mengenakan pakaian toga, tampak beragam raut di wajah mereka. Ada yang senang, mengerutkan dahi, hingga tak sedikit pula yang sekadar berwajah datar-datar saja. Sambil menantikan giliran untuk dipanggil, para wisudawan masih berupaya menunjukkan sikap percaya dirinya.

Satu per satu para wisudawan pun mulai dipanggil. Terik matahari yang mulai naik seakan bukan penghalang bagi mereka untuk berhadapan dengan jajaran senat saat prosesi pemindahan tali toga.

Sementara, di sekeliling wisudawan dan jajaran senat, tampak sejumlah juru kamera mengabadikan momen penting tersebut. Seakan jangan sampai satu celah pun dari momen itu terlewatkan. Terlebih lagi, tangkapan gambar dari para juru kamera itu nanti akan disimak oleh orang tua atau wali mahasiswa di rumahnya masing-masing.

Inilah yang terjadi pada prosesi wisuda Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende. Agenda yang diikuti 91 Wisudawan dan wisudawati adalah angkatan pertama yang merasakan wisuda drive thru.

Sayangnya, dengan teknis yang sedikit berbeda, momen penting para lulusan itu serasa kurang lengkap tanpa kehadiran orang-orang tercinta mereka. Yakni orang tua atau wali mahasiswa.

“Sebenarnya sangat disayangkan, orang tua kita tidak bisa hadir,” ujar Valentina J. O. Koke, salah satu lulusan terbaik Stipar Ende yang juga menjadi peserta wisuda.

Ia menambahkan namanya saja momen berharga, sebagai bagian dari wisudawati juga mengharapkan kehadiran orang tuanya itu, ada kebanggaan tersendiri dari orang tua saat menyaksikan buah hatinya diwisuda atau proses pemindahan tali toga.

"Kami semua sangat senang jika orang tua kami bisa hadir menyaksikan proses pemindahan toga, namun ia mengaku cukup bangga bisa melaksanakan wisuda di tengah pandemi, meskipun prosesnya dengan cara tak biasa," ujar Eltin.

Semntara itu, Maria Florensia Karlin Lawi salah satu wisudawat juga harus menahan haru, Bahagia bercampur bangga, namun ada ganjalan tanpa kehadiran orang tua. Dirinya merasa trenyuh, karena selama kuliah, tentunya wisuda menjadi momen yang dinantikan. Tak hanya bagi mahasiswa sendiri, namun juga orang tua mereka. “Namanya anak, pasti punya keinginan membanggakan orang tua,” tutur Karlin.

Sejak awal mengikuti drive thru, wisudawan harus menggunakan protokol kesehatan, lalu diminta berbaris dan berurutan bergantian menunggu panggilan. Seusai proses pemindahan toga itu.

Meskipun terasa ada yang kurang tanpa kehadiran orang tua, wisuda drive thru yang digelar, jumad (30/10/20) dinilai menjadi pilihan terbaik saat ini.

Hal itu karena pandemi yang mengharuskan setiap orang menghindari kerumunan masal. Meskipun ada, namun harus diupayakan dengan meminimalisasi kontak fisik, menjaga jarak, dan menggunakan protokol kesehatan. (Ronald Degu)

 


Halaman