Top Pick
Warga Ende Reaktif Hasil Rapid Test Bertambah 13 Orang   Terkait Pembukaan Ruas Jalan Baru, Bupati Mabar Kunjungi Kongregasi SVD di Labuan Bajo Perubahan Dua Nama Kecamatan di Matim, Ini Kata Kadis Dukcapil Pasar Lembor 2 Kali Terbakar pada Tanggal dan Hari yang Sama Warga Desa Torok Golo Apresiasi Kehadiran Program Pamsimas KPK Ingatkan Hotel BUMN yang Tunggak Pajak 1.8 M

Dianggap Turut Berkontribusi pada Capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Cerita Sanggar Budaya Kampung Cecer Ditulis dalam Buku “Kepingan Cerita Negeri”

(Kegiatan Peluncuran dan diskusi buku Kepingan Cerita Negri di Labuan Bajo, Kamis, 3 Desember 2020. Foto : Boe Berkelana)

 

POSTNTT.COM | LABUAN BAJO - Inisiatif dan upaya kolektif para anggota komunitas Sanggar Riang Tana Tiwa di Kampung Cecer, Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat-Flores, NTT, menjadi salah satu dari dua puluh tujuh cerita inisiatif lokal dari beberapa daerah di Indonesia yang ditulis dalam buku “Kepingan Cerita Negeri, Kearifan Lokal di Indonesia Berpijak pada Keselarasan”.

Capaian perubahan Sanggar Riang Tana Tiwa dianggap sejalan dengan beberapa target dari Sustainable Development Goals (SDGs), agenda global untuk kehidupan yang lebih baik yang berlaku sejak tahun 2015 hingga tahun 2030. Target-target dari SDGs yang dimaksud adalah penguatan upaya pelestarian budaya dan warisan dunia (tujuan 11, target 4) dan pengimplementasian kebijakan yang mendukung pariwisata berkelanjutan yang dapat menciptakan lapangan kerja sekaligus mendukung budaya dan produk lokal (tujuan 8, target 9).

Kegiatan peluncuran dan diskusi buku ini diadakan oleh Connecting Local Initiatives (COLONI), sebuah komunitas nasional untuk SDGs.

Hadir sebagai narasumber adalah Feliks Armin, salah satu anggota tim penulis, dan sebagai penanggap adalah Fransiskus S Sodo (Kepala Bappeda Manggarai Barat), Venansius Haryanto (Peneliti Lembaga Sunspirit for Justice and Peace Labuan Bajo), dan Irna Kaban (dosen Politeknik eLBajo Commodus Labuan Bajo).

Boe Berkelana, perwakilan COLONI NTT di Labuan Bajo yang sekaligus panitia peluncuran buku menjelaskan bahwa proses penghimpunan cerita-cerita yang ada di dalam buku dilakukan oleh teman-teman COLONI di beberapa daerah dan penerbitan bukunya didukung oleh lembaga WWF Indonesia.

“Tentu ada banyak kerja dan inisiatif di tingkat lokal yang capaian perubahannya lebih jauh berdampak dari inisiatif lokal yang diceritakan dalam buku ini. Namun kiranya buku ini menjadi pintu masuk untuk mengaitkan kerja-kerja komunitas lokal dengan SDGs dan meneguhkan semangat kerja dan inisiatif-inisiatif lokal dalam bekerja untuk kehidupan bersama yang lebih baik dan pembangunan yang lestari di masa datang”, kata Boe Berkelana yang juga pendiri Rumah Baca Lalong Beo di Desa Matawae-Sano Nggoang ini.

Fransiskus S Sodo, Kepala Bappeda Manggarai Barat, memberi apresiasi atas terlaksananya kegiatan peluncuran dan diskusi buku ini. Ia menjelaskan, beberapa program pemerintah daerah Manggarai Barat juga sejatinya selama ini telah mendukung capaian SDGs di daerah. Beberapa indikator program kerja di tingkat SKPD sejalan dengan indikator-indikator dari beberapa tujuan dan target SDGs. Namun demikian, diskusi pada peluncuran buku ini meneguhkan semangat pemerintah daerah untuk menguatkan tujuan pembangunan berkelanjutan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang sedang dalam proses pembahasan hingga Agustus tahun depan.

Venansius Haryantio, penanggap lainnya, memberi catatan kritis. Bahwa cerita-cerita dalam buku ini tentu baik adanya. Namun alih-alih untuk sekedar meromantisasi kerarifan-kearifan lokal yang dianggap mendukung agenda global, kearifan-kearifan itu mestinya menjadi gerakan kolektif untuk menentang segala bentuk agenda pembangunan eksploitatif dan mengabaikan suara masyarakat lokal. Juga, inisiatif-inisiatid di tingkat lokal ini tidak boleh berjarak dengan kebijakan politik. Mereka mesti menjadi bagian dari agenda politik daerah.

Pada sesi diskusi, Silvester Joni, salah satu peserta memberi tanggapan. Bahwa terbitnya buku ini bukan untuk mengemis afirmasi atas capaian baik dari kerja-kerja dan inisiatif di tingkat lokal, namun kiranya benar-benar sebagai upaya pendokumentasian upaya kolektif umat manusia untuk kehidupan lestari di masa-masa akan datang.

Kegiatan diskusi buku yang berlangsung pada Kamis (3/12/2020) di Rumah Baku Peduli, Labuan Bajo, Manggarai Barat ini dihadiri pula oleh beberapa tokoh lembaga lokal dan pegiat komunitas. *

 

 


Halaman